-------
Hari ini kusapa dunia
Dengan senyum dan canda tawa
Tiada tangis tiada duka
Tiada beban belenggu jiwa
Hati kecilku ingin berkata
Andai aku seperti engkau
Dunia terasa lebih indah
Sayang aku kurang sempurna
Ku tahu Tuhan maha Kuasa
Cintanya adil pada manusia
Meski aku kurang sempurna
Hidupku dapat lebih berguna
Ku bersyukur pada kasihNya
Lewat engkau ku lebih bahagia
Meski aku kurang sempurna
Ku dapat nikmati indahnya dunia
------
Itulah lagu khusus, yang dinyanyikan anak2 cacat SLBC borowetan, Purworejo, diciptakan oleh pengawas sekaligus pengasuh mereka, Bp. Sunar.
Masih ingat tahun lalu kita membuat Project Santa, dimana kita mengumpulan gadgets tidak terpakai, dilelang, dan hasil lelang disumbangkan untuk anak2 cacat tersebut.
Untuk yang ketinggalan cerita tahun lalu, dan untuk refresh memory, ini kisah yg dibuat tahun lalu
http://www.info.gadtorade.com/node/120
Entah karena direncanakan dibuat trilogi, akhirnya bener seperti film trilogi, kisahnya keluar 1 tahun sekali :-)
Dan inilah kisah ke 2 : Penderitaan
Singkatnya, setelah tiba siang hari di Purworejo, kita segera mencari tempat untuk belanja sembako, sebagai sumbangan untuk anak2 panti asuhan SLBC ini.
Karena tidak tau situasi di Purworejo, tempat yang kita datangi pertama adalah kantor polisi.
Kita ceritakan bahwa kita butuh membeli sembako, dan bertanya bisa beli ditoko grosir mana. Akhirnya dikawal polisi vorijder (gitu yah nulisnya? :-) kita diantar ke sebuah toko, yang ternyata pemiliknya sendiri seorang Katolik.
Mengetahui kita akan menyumbang, dia katakan akan beri harga best price (kayak milis kita yah, ada kalimat best price :-D )
Tapi serunya dia sendiri tidak tau ada panti asuhan anak cacat di kotanya, yang dia tahu adanya panti asuhan anak yatim yg diurus suster2.
Bagus akhirnya supirnya tau, jadi kita bisa diantar kesana.
Setelah mengeluarkan uang 6,5jt untuk bayar belanjaan, yang tidak tahu lagi harus dibelikan apa lagi, sedang uang masih sisa 7,5 jt lagi, kami tawarkan kepemilik toko, untuk disimpan sebagai uang pembelian beras, dan minta pemilik toko untuk tiap bulan mengirimkan sejumlah beras ke panti asuhan sampai uangnya habis.
Tapi pemilik toko menolak, karena saat itu harga beras tidak menentu.
Akhirnya diputuskan untuk memberi sisanya kepada pengurus di SLBC untuk disimpan dan dipakai membeli beras setiap bulan.
Sementara itu Bruder Elias, yang mengasuh anak2 SLBC menelepon, menanyakan kabar kita sudah sampai dimana, karena beliau menunggu dan takut kita tersasar.
Setelah selesai berangkatlah kita beringan menuju panti asuhan.
Memasuki jalan kecil yang dikiri kanannya terhampar sawah akhirnya kita tiba di panti asuhan SLBC St. Laurentius.
Bangunannya berada di tempat yang asri, dikelilingi sawah penduduk yang luas.
Bangunan utama adalah sekolah khusus anak2 cacat.
Di sampingnya baru tempat tinggal anak2 panti asuhan.
Jadi tidak semua anak cacat yang bersekolah disini tinggal di panti asuhan, banyak dari mereka yang tinggal di rumahnya masing masing disekitar kota Purworejo.
Dengan hangat Bruder Elias menyambut kami, dan terlihat sedikit kagum atas barang bawaan kami.
Saat itu suasana panti sepi, karena sekolah sedang libur, dan sebagian anak panti yang libur pulang ke keluarganya atau kerabatnya.
Disana hanya tinggal beberapa anak asuhan yang nanti saya kisahkan sedikit pergelutan tentang hidup mereka.
Kami duduk di teras, di meja panjang dan mengobrol.
Saya kisahkan tentang Project Santa, dimana teman2 Gadtorade!™ berjuang dan berbagi mengumpulkan sumbangan untuk anak2 panti.
Disitu juga sekalian diserahkan alat bantu dengar untuk anak2 yg butuh, sumbangan teman dermawan kita dari Bandung, dan sisa uang 7,5 jt.
Bruder Elias mengatakan, selama dia mengasuh anak2 ini, baru kali ini ada perhatian yang menghasilkan sumbangan sebesar dan semacam ini.
(So, thank you guys, buat semangat nya)
Selama kami mengobrol, kami ditemani 3 anak asuhan, ada Abi, Hendra dan Budi.
Buat kita orang normal , tingkah mereka terasa ganjil, menggelikan tapi sekaligus membuat hati miris.
Abi anak yang paling antusias menyambut, bicaranya sulit, seperti anak yang baru belajar bicara, tidak bisa diam, semua barang kami di pegang dan disentuhnya. Kami disuguhkan minuman, dia bisa datang dan meminum minuman kami :-)
Kami menuliskan alamat, Abi berteriak teriak ingin ikut menulis.
Dan yang bikin miris Abi yang berumur 9-10 tahun itu tidak lebih baik memegang pulpennya dan menulis dibanding anak 3-4 tahun.
Sementara Hendra yang sebenarnya bukan anak2 lagi, tapi tampilannya seperti anak2, dengan radio selalu ditangan, dan mike yang sudah tidak jalan selalu dalam genggamannya.
Disela-sela mike ada mainan plastik seekor singa atau macan.
Dari cara dia memegang barang2 tersebut, sepertinya barang2 tersebut tidak boleh lepas dari genggamannya, miliknya yang paling berharga.
(Ingat Gollum di trilogi Lord of the Rings? " My precious....."
Mengenai Budi, dia sedang asik tidur di teras satunya yang dilapisi karpet :-)
Dari cerita Bruder Elias, kami mendengar kisah perjuangan mengasuh dan membiayai anak2 tersebut.
Abi, seorang anak jalanan, entah keluarganya dimana. Ditemukan Bruder Elias sedang meminta2 di terminal. Abi yang cacat mental diperalat supir2 angkot untuk meminta belas kasihan orang, dan uang hasil pemberian orang diambil supir2 tersebut, sebagian diberikan kepada Abi untuk membeli lem, lem aibon.
Ya, abi punya hobi ngelem, memanaskan kaleng berisi lem, dan kemudian udaranya dihirup. Menghasilkan efek seperti ngedrugs, ekstasi.
Padahal kebiasaan ini tentu saja membuat paru2 bisa rusak dan otak terganggu.
Dengan perjuangan dan beradu argumen dengan supir angkot, bahkan diancam, akhirnya Abi dibawa Bruder untuk tinggal di panti asuhan.
Hari2 awalnya, tutur Bruder, Abi seperti anak berandalan yang keras, tatapan tajam, mudah mengamuk. Kehidupan keras jalanan menempa seorang cacat menjadi seorang berandalan cacat.
Saat kami berkunjung, Abi sudah cukup lama tinggal disana, sudah jauh lebih baik kata Bruder, sudah tidak mengamuk dan mau menurut, bahkan banyak tertawa dan tersenyum, yang pertamanya mustahil dia lakukan.
Tangan bagian depannya selalu menekuk, seperti tangan orang stroke, bicaranya seperti bahasa Tarzan, dan autis. Beberapa kali Bruder mengingatkan Abi, kalau berbicara untuk menatap lawan bicara.
Natal kali ini dan Natal2 selanjutnya Abi mungkin tidak akan pernah pulang, sebab siapa orang tuanya tidak diketahui, rumah panti asuhan St. Laurentius mungkin akan ditinggalinya lama.
Hendra, saat ditemui kemungkinan umurnya sudah 20 th an. Tapi badannya kecil, dan penampilannya juga kelakuannya akan menempatkan dia sebagai anak kecil, anak kecil yang terperangkap dalam badan yang sudah seharusnya dewasa.
Sebenarnya Hendra masih mempunyai seorang ayah.
Suatu ketika, dia dititipkan di panti asuhan oleh ayahnya.
Kemudian ketika saatnya libur, waktu anak2 harus dijemput orang tuanya, ayah Hendra tidak pernah ada lagi. Dicari kerumahnya sudah lama pindah. Sudah tak tentu rimbanya.
Tahun2 pun berlalu...
Suatu hari, pagi2 Ia meracau: "ayah pulang", "ayah pulang!". Para pangasuh bingung, kenapa anak ini meracau.
Tapi betul, ternyata sore hari, sosok ayahnya muncul di Panti Asuhan. Kelihatannya Hendra boleh saja seorang yang cacat mental, tapi dia memiliki ikatan batin yang kuat. Intuisinya benar mengatakan bahwa ayahnya akan datang.
Tetapi kepergian ayahnya kelihatannya menorehkan luka yang sangat dalam dihatinya, jadi ketika ayahnya datang, hanya ada rasa benci di hati Hendra, hingga melemparkan batu ke ayahnya dan menyuruhnya pergi.
Para pengasuh mempersilahkan ayah Hendra menginap karena hari mulai malam, sambil menenangkan Hendra.
Tapi ketika pagi menjelang, ayah Hendra sudah pergi lagi entah kemana.
Menjelang Natal tahun-tahun kemarin, ketika diajak jalan2 di pasar oleh Bruder Elia, dilihatnya sebuah radio kecil dan dengan keinginan amat sangat dia memohon dibelikan. Dengan kasih Bruder Elia membelikannya sebagai hadiah Natal. Dan Radio itu seperti diceritakan diatas, menjadi seperti temannya yang tak terpisahkan.
Ada kebiasaan bagi kumpulan anak panti asuhan, diajari bernyanyi bersama saat sesudah makan malam.
Hendra terlihat paling asik kalau ada nyanyian, dengan satu tangan menempelkan radio di telinga, dan sebuah tangan memegang mike rusak beserta mainan singa plastiknya, dia asik bergoyang seperti sedang menyanyi.
Tak lama kemudian Budi bangun dari tidur siangnya. Dia terlihat paling normal dari anak2 lainnya. Sebentar kemudian dia menyalami kami. Bruder memintanya memperlihatkan kepandaiannya menyanyi.
Kemudian pengasuhnya mempersiapkan sebuah organ dan Budi mulai menyanyi:...
......Di waktu ku kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang
Disore hari nan sepi....ibuku terbelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku kudengar, ada namaku disebut
Sering ini kukenang, di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris kutersesat
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar, ....namaku disebut
-------
Seiiring lagu dinyanyikan dengan baik oleh Budi, mengalirlah kisah tentang Budi.
Budi sebenarnya tidak pernah tahu, sosok ibunya.
Mungkin karena ia tidak pernah tahu sosok ibunya tersebut, ia menyukai lagu tersebut. Mungkin di dalam hatinya kerinduan terdalam adalah sosok seorang ibu.
Ia percaya ibunya yg entah dimana, merindukan dan mendoakan dia setiap waktu.
Budi kelihatan seperti anak normal, kala ia menyanyi.
Tapi di sekolah, sulit sekali bagi dia untuk mengikuti pelajaran, bahkan yang mudah sekalipun. Bakat dan minatnya baru ada bila berkesenian, terutama menyanyi. Tak lelah lelahnya dia menyanyi berbagai lagu, bahkan kadang lagu dangdut :-)
Dikala Budi menyanyikan lagu dangdut dengan antusias Hendra pun asik berjoget.
Melihat kehidupan mereka, seperti melihat sebuah cermin dunia lain. Disatu sisi miris melihat nasib mereka, disatu sisi menjadi pembelajaran hati untuk bersyukur, betapa kita ternya dengan kondisi "normal" sebenarnya memiliki berkat berlimpah, kehidupan kita jauh lebih baik dari mereka, dan membuat diri menjadi malu, kadang kita begitu lemah dan mengeluh tentang hidup, ketika menghadapi sedikit kesulitan saja.
Disatu sisi bertanya pada sang Khalik, kenapa mereka harus mengalami nasib yang berat, dan disisi lain seperti disadarkan, supaya kita bisa bercermin pada mereka dan menghargai hidup. Menghargai kita hidup normal dan memiliki figur Ibu, yang kadang juga membangkitkan sesal atas tindakan kita yang tidak patut pada seorang Ibu.
Bruder Elias menambahkan cerita tentang perjuangan mereka mengasuh anak2 luar biasa ini.
Sungguh duduk berhadapan dengan Abi pun sebentar saja, rasanya sedikit mengerti beratnya perjuangan mengajar anak2 ini.
Abi yang tidak bisa diam, kalau tidak dipahami, rasanya seperti kita direcoki anak anak nakal. Kesabaran harus ditulis kesaaaabaaaaraaaan, supaya bisa bertahan bersama mereka.
Kadang Bruder Elias harus sedikit bernada suara menghardik supaya Abi tidak meneruskan perbuatannya, dan kemudian dengan kembali lembut berbicara padanya.
Perjuangan bukan hanya dengan tingkah laku anak2 saja.
Pertama mereka mulai, penduduk sekitar entah dikompori oleh siapa, menolak mereka. Alasannya rancu, seperti kita sering dengar, masalah agama. Bahkan mendapat berbagai ancaman.
Butuh kesabaran untuk memberi pengertian, bahwa niat mereka mengasuh adalah tulus, bukan memindahkan agama seseorang.
Akhirnya pengertian terbuat, bahkan terjadi kerjasama harmonis. Anak2 SLB seringkali ikut kegiatan masyarakat seperti menyanyi di panggung perayaan 17 Agustus. Bahkan ibu-ibu pengajian bisa menyayangi mereka dengan mengirimkan makanan di saat Natal.
Biaya.....
Itu lah kendala terbesar saat ini. Bruder bercerita, masyarakat sekitar bukan masyarakat yang berkecukupan. Dari berpuluh puluh anak yang diasuh, hanya beberapa anak yang bisa dibayari orang tuanya untuk tinggal di panti asuhan.
Pekerjaan para orang tua kebanyakan petani, dan kadang penghasilan tidak tetap. Kadang bisa membayar biaya sekolah, kadang tidak.
Ketika tidak mempunyai uang, anak2 tidak diantar ke sekolah, karena tentu saja mengeluarkan ongkos 5000-15ribu untuk transportasi anak2 ke sekolah menjadi berat.
Maka diadakanlah jemputan dari sekolah, supaya anak2 bisa diperjuangkan tetap pergi bersekolah.
Saya teringat lagi, ketika pertama kita buat Project Santa, saya bertanya, Bruder apa yang sangat diperlukan disana?
Beras, itu jawabnya. Anak2 butuh makan.
Dari cerita Bruder selanjutnya saya mengerti kenapa mereka demikian butuh beras.
Ingat sebuah panti asuhan anak anak normal yang diasuh suster yang saya cerita diatas?
Bruder bercerita anak2 itu lebih beruntung, karena ada sebuah perusahaan Bus, yang tiap bulan mau menanggung kebutuhan beras mereka.
Bruder pernah minta tolong kepada para suster, apakah mungkin pengusaha tersebut membantu memberikan beras juga bagi anak2 SLBC? Tetapi permohonan itu tidak membuahkan hasil.
Bahkan pernah suatu saat, bruder terpaksa meminta beras kepada suster untuk anak-anak SLBC.
Kadang kata Bruder melanjutkan, ada toko2 yang baik, yang memperbolehkan mereka berhutang dulu untuk makan anak2, dan dilunasi ketika keuangan mencukupi.
-------
(Tenggorokkan terasa tercekat, ketika menulis ini, dihadapan saya ada segelas besar kopi starbucs dark cherry mocha dan walnut toast cake, yang kalau dibelikan beras bisa beberapa kilo, sementara buat saya hanya dihabiskan untuk selingan sebelum makan malam... )
-------
Masih banyak cerita tentang anak2 lain, diantaranya banyak orang tua yang menyerah dan malu dengan kondisi anaknya, sehingga berusah membuangnya supaya hanya tinggal di panti.
Oleh karena itu panti asuhan "memaksa" anak2 pulang waktu libur Natal ke keluarganya supaya tetap terjadi kontak dengan keluarga.
Kejadian klasik juga ada, dimana anaknya mau bersekolah, tapi orang tuanya menentang, karena masalah yang lagi-lagi agama.
Butuh usaha lebih keras untuk meyakinkan, bahwa sekolah lebih mempersiapkan anak2 untuk masa depannya.
Makanya di sekolah dan panti asuhan ini, anak2 juga diajar berkarya, seperti belajar membuat paving block, lilin dll.
Cuma kata Bruder, tidak seperti mengajar anak2 kabanyakan, anak2 ini karena kekurangannya , seringkali tidak bisa konsisten bekerja, jadi ketika mereka mau, mereka mengerjakannya, sebentar kemudian teralih perhatiannya dan mengerjakan hal lain.
Kamipun pergi berkeliling melihat ruangan dimana mereka tidur, setiap kamar sederhana yang sempit diisi 2 ranjang susun dengan kasur kapuk.
Menyuruh mereka tidur bukan hal mudah, apalagi seringkali udara panas di daerah itu membuat gerah mereka.
Besoknya mereka bangun, persoalan lain muncul, tidak semua bisa mandi sendiri, harus seperti anak kecil dimandikan, bahkan di pakaikan baju, diikatkan tali sepatu, dan diajak bersekolah.
Ada sebuah papan pengumuman, yang berisi jadwal, siapa dari anak2 tersebut yang harus bertugas. Jadi anak2 juga diajar bertanggung jawab dengan lingkungannya. Bekal yang perlu jika nanti mereka harus kembali ke masyarakat atau keluarga.
Kamipun berkeliling panti.
Sebagian pengasuh terlihat sedang mempersiapkan makan malam yang sederhana, hanya berupa tahu tempe dan tumis kangkung.
Di belakang ada sebuah gereja yang dibangun baik, tetapi dibelakangnya lagi ada bangunan pengembangan sekolah yang belum usai, terlihat sudah terbengkalai lama.
Menurut Bruder, hasil sumbangan badan sosial di Jerman, tapi tidak sempat terselesaikan, karena krisis yang mebuat harga-harga melambung dan membuat anggaran budget yang sudah dianggarkan tidak mencukupi lagi.
Akhirnya sore menjelang, kami harus segera pulang supaya besok pagi bisa tiba lagi di Bandung. Kami berpamitan, diiringi senyum Abi dan permintaan Abi dengan bahasa Tarzannya untuk berfoto.
Kami salami Bruder dan para pengasuh, dalam hati bersyukur Tuhan tidak tinggal diam, dengan memberikan orang2 "kuat" ini dalam kebutuhan anak2Nya yang terlantar.
Tiba2 Abi memeluk...entahlah apa maksudnya. Entah salam perpisahan, entah kebiasaanya. Tapi bagi saya itu seperti pelukan Malaikat kecil.
Pelukan itu rasanya sudah mengungkapkan ucapan nya yang terbaik, yang tidak bisa diucapkannya dengan benar dalam bahasa Tarzannya, bahwa ia berterima kasih kepada saya dan kepada anda semua yang peduli pada kehidupan mereka.
Pelukan itu layak menjadi milik anda semua.
-Peace On Earth-
Salam
9B
www.gadtorade.com